PAPUA.- Melalui acara interaktif Ngobrol Pintar Masyarakat Aman dan Tangguh Bencana (Ngopi Mantab), PMI Provinsi Papua lahirkan Gerakan Membangun Terumbu Karang (Gerbang Terang) dengan mengajak seluruh komponen (pemerintah, dunia usaha/industri, akademisi, organisasi masyarakat/masyarakat dan media massa) untuk peduli pada pelestarian terumbu karang.
Acara yang digelar di Pantai Hamadi, Kota Jayapura, Selasa (16/06/2026) mengangkat tema “Benteng Biru Pesisir Papua: Transplantasi Terumbu Karang sebagai Upaya Mitigasi Bencana Berbasis Ekosistem” tersebut dihadiri perwakilan dari unsur pemerintah yakni BPBD, Dinas Kelautan, Dinas Kehutanan & Lingkungan Hidup Provinsi Papua, BMKG, Basarnas, Polairud, TNI AL, Kelurahan Hamadi, Kepala kampung Kayu Pulo.
Peserta dari kalangan akademisi/sekolah, Universitas Cendrawasih, Universitas Yapis, Akper Marthen Indey, Institut Swadiri, ST. Otto Geisler, SNK 1 Pariwisata, SNK 4 Agrobisnis dan agroteknologi, SMKs YPKP, SMKN 5 Waibu, SMA Muhammadiyah, SMA 3 Sentani dan SMP Negeri 2 Sentani. Sedangkan peserta dari perwakilan dunia usaha/industri, KADIN, BRI, BNI, United Traktir, Kalla Aspal, Grand Abe Hotel, Swissbel Hotel, RM. Rumah Laut dan Daun Sagu serta dari unsur organisasi masyarakat, BAZNAS, dompet Dhuafa, Komunitas MOLO, Pramuka, Yayasan Papua Mandiri, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Fisik Indonesia (PPDFI), GKI, Orari, Rapi, LSM New Papua Foundation dan unsur media massa, antara lain Cendrawasih Pos, Tribun Pos, Antara News, RRI dan a News.
Ketua PMI Provinsi Papua, Zakius Degei, S.T menuturkan, mitigasi bencana tidak selalu berupa pembangunan dinding beton yang kaku di tepi pantai. “Tuhan telah menyediakan infrastruktur terbaiknya, yaitu terumbu karang. Terumbu karang yang sehat adalah benteng alami—sebuah Benteng Biru—yang mampu meredam energi ombak hingga lebih dari 90 persen sebelum menyentuh bibir pantai,” ungkapnya.

Dijelaskan Zakius, Gerbang Terang merupakan bagian dari upaya seluruh elemen masyarakat untuk menjaga, merawat dan melestarikan biota laut yang banyak manfaatnya bagi kehidupan umat manusia tersebut secara konsisten dan berkelanjutan. “Tiga hal utama yang akan menjadi pilar dari Gerbang Terang nanti, edukasi dalam rangka membangun karakter konservasi dengan sasaran sekolah, kampus dan komunitas, rehabilitasi/restorasi dengan aksi transplantasi karang di beberapa titik sasaran dan upaya mitigasi/kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua, Ir. Iman Djuniawal, mengapresiasi inisiatif PMI Papua. Ia menekankan bahwa kondisi terumbu karang di pesisir Papua saat ini sudah sangat kritis. “Karang di bagian pesisir kita mulai rusak bahkan cenderung di batas yang tidak aman lagi. Menghancurkannya bisa dalam hitungan detik, tetapi menumbuhkannya kembali membutuhkan waktu puluhan tahun,” jelasnya.
Menurut Djuniawal, kegiatan Ngopi Mantab PMI Papua tersebut telah membantu pemerintah dalam menyosialisasikan akan pentingnya menjaga ekosistem laut. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memperlakukan karang secara sembarangan, karena keberadaannya sangat vital bagi kelangsungan hidup ikan, nelayan, dan keseimbangan lingkungan.
Ketua Panitia Ngopi Mantab, Austikariny Ambarwaty menuturkan, acara berlangsung dengan lancar dan menghasilkan komitmen bersama untuk mengawal Gerbang Terang secara berkelanjutan. “Semua peserta membubuhkan tandatangan sebagai wujud komitmen mengawal gerakan ini ke depannya. Dalam kesempatan ini, kami ucapkan terima kasih kepada para pendukung acara Ngopi Mantab antara lain dari BNI, BRI, FA. Medan Jaya (toko bangunan) dan CV. Mutiara Egeida,” imbuhnya.

Usai diskusi, acara dilanjutkan dengan praktik pengikatan bibit karang pada media rak jaring laba-laba oleh sejumlah peserta Ngopi Mantab. Mereka mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dengan mengikuti Ngopi Mantab. “Acara ini sangat luar biasa dan banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, khususnya tentang terumbu karang,” kata Lexias Ohee, Relawan PMI Papua. ***
